Dalam anganku sudah kurancang jauh, untuk “sowan” silaturahmi kepada Pak Khamdi. Beberapa informasi lewat media social dan Hariyanto sang anak , mengabarkan kalau beliau dalam kondisi sehat,bugar dan masih segar semuanya.Puji Tuhan...ungkapan syukur yang selalu keucapkan. Ya.. Beliau memang begitu sangat istimewa bagi saya, beliau adalah sosok guru yang sangat saya kagumi dalam beberapa hal, terutama kesederhanaan dan kesahajaan hidupnya. Sempat ada rasa khawatir juga untuk tidak bisa mengunjungi beliau, karena posisi saya berada di Jakarta, tempat tinggal dan sebagai seorang guru juga. Mengingat usia beliau yang sudah sedemikian lanjut, apalagi kalau mengingat teman teman beliau sudah banyak yang “game over”. Termasuk almarhum bapak saya, sebagai salah satu dari kawan karibnya semenjak SMP dahulu.
![]() |
| Aries Totok bersama Pak Khamdi |
![]() |
| Masa muda 1956. Pak Warno, Pak Ramli, Pak Wilarso Pak Khamdi dan Pak Suharno |
Pertemuan di
rumah Totok adiku diakhir dengan kesepakatan untuk berlanjut untuk sowan Pak
Khamdi siang itu juga. Sebelum sowan Pak Khamdi kami mengajak makan bersama
di warung makan Mangut Welut Pancar
Ngampeldento Salaman. “Aku nggo klambi ko ngene iki “Kata Hariyanto sambil
menghidupkan motornya dan menunjukan baju dorengnya. Logikanya itu melewati
dusun Kateki tempat tinggal Hariyanto dan Pak Khamdi. Perjalanan indah dan
menyenangkan, Gunung Sumbing dan Pegunungan Potorono, Sikapat tampak indah.
Begitu sangat indah,hamparan sawah yang hijau dengan angina segar yang sepoi
sepoi. Bagiku itu adalah sesuatu yang mahal dan indah, karena kesehariannku ada
di Jakarta yang penuh macet dan sesak. Anganku kembali mengingat, OO….disinilah
teman temanku SMP dahulu, waktu itu jalan masih macadam, teman teman masih mengunakan
sepeda untuk pergi sekolah. Jembatan Kali Tangsi masih bambu, menurut cerita
dibangun permanen beberapa kali tetaplah runtuh keterjang banjir. Mangut welut
Pancar…tercapai juga anganku setelah mengetahui lewat internet dan medsos.
Cukup mengenyangkan dan enak menurut saya, sepaket terdiri dari nasi “kemebul”
hasil dangdangan , sepiring urap, secobek sambel ijo, 2 piring wader
goreng.Masing masing sepiring mangut welut.“ Unjukane
teko teh benter sedaya nggih “ demikian sapaan khas Magelangan utamanya
Salamanan.. ( Minuman dibuat teh panas semua aja ya ).Rencananya saya mau
menraktir mereka semua, tetapi keduluan Hariyanto. Selepas makan siang, kami
berempat menuju rumah Pak Khamdi di Kateki, sekaligus bagi Hariyanto adalah
perjalanan pulang. Tidak banyak yang berubah ujud fisiknya daerah itu, jalanan
lebih mulus dan ramai lalulintas. Bangunan rumah tidak bertambah signifikan,
kebanyakan rumah sudah banyak yang permanen. Dengan ragam dan model gaya kota.Desa
Ngampeldento lebih dikenal Pancar,Tanjunganom, Purwosari, Jebengsari, Kebonrejo
itulah desa desa yang saya lintasi.Sepanjang jalan memoriku masih mengingat
akan masa lalu daerah itu, jalan jalan yang baru maupun yang lama.Hanya sedikit agak panas, ketpelusuri pedesaan itu, hampir merata. Pohon pohon tinggi yang rindang, sudah banyak ditebangi demi keamaan pemukiman. Pohon pohon rambutan yang dulu begitu berjaya, seolah hilang. Beberapa sumber mengatakan sudah tidak ekonomis dan menguntungkan. Mungking juga ketika , hujan abu letusan Merapi tahun 2010 yang lalu banyak merobohkan pohon rambutan. Begitu kami
sampai di depan rumah beliau, saya masih hafal bentuk rumah permanen dan untuk beberapa kali sering berkunjung
kesana. Baik sendiri sendiri maupun dengan almarhum bapak saya. Ada beberapa
perubahan penting, terakhir saya sowan tahun 2000 awal saya ke Jakarta, dan
menyampaikan ketemu dengan Hariyanto di Jakarta, rumah itu masih direnovasi
bagian atap. Saya melihat bagian rumah sudah diplester dan berlantai keramik.Hariyanto yang
masuk terlebih dahulu, beliau membukakan pintu. Sosok yang tidak asing bagi
saya, begitu melihat Pak Khamdi sehat dan segar. Seraya saya bersyukur kepada
Tuhan ALLAH dan hati sayapun merasakah kebahagiaan yang dalam. Sungguh anugerah
dari Tuhan Allah bagi saya masih bisa sowan silaturahmi kepada Pak Khamdi. Dari
balik pintu, sosok bapak guruku yang selama ini aku kenali, seraya dalam mimpi,
postur tubuh yang tinggi, wajah ceria segar dengan rambut sudah memutih semua.“ Kulo nuwun
Bapak, dalem sowan nyaosaken sungkem pangabektos” sambil berjabat tangan dengan
cium tangan. Erat sekali beliau memegang pundak pundak kamipun di pegang dengan
erat. Kamipun dipersilahkan duduk. Meja kursi tamu seperti yang dahulu sewaktu
saya sowan dan bermain ke rumah Hariyanto.“ Hlo,
ko..bisa barengan, iki pada seko ndi ? “ demikian sapanya.“Nggih Pak
sampun semadosan , nika mumpung Adji wangsul “Jawab Aries.“ Prei po
Nung….” Demikian beliau memanggil saya sama seperti alm bapak memanggilku dulu.“ Inggih nika,
kulo legaaken, nyekar lajeng kempal kanca kanca”Pembicaraanpun
mengalir menanyakan kondisi masing masing, anak anak kami satu persatu. Bahasa
Jawa yang khas yang sering saya dengar, ketika dulu beliau masih sering main
kerumah untuk bercerita bersama dengan almarhum bapak. Anganku, citrakku dan
memori membangkitkan kenangan akan almarhum bapak. Seolah olah bapak ikut hadir
dalam perbincangan siang itu. Sesekali beliau mempersilahkan untuk menikmati
makanan yang tersaji di meja. Beliau memang masih banyak tamu yang datang
berkunjung, baik kerabat,relasi, sahabat dan kenalan kenalan. Rekan rekan guru
yang lebih mudah dan masih akttif mengajar di SMP Negeri 1 Salaman beberapa
masih sering datang berkunjung. Interior rumahnya dipenuhi barang barang antik,
baik lampu, kapstok, hiasan dinding. Terlihat juga foto presiden dan wakil
presiden yang pernah menjabat di Indonesia. Sambil
bercerita tentang masa remajanya yang banyak tinggal di Kauman, ketika bersama
sama sekolah di SMP Kusuma ( sekarang SMP Salaman 1953). Sewaktu saya masih
kecil, sering mendengar cerita almarhum bapak tentang masa sekolahnya. Rumah
Simbah Hardjodiryo,bulik sekaligus orang tua angkat almarhum bapaku tempat
favorit bagi teman teman untuk belajar bersama. Mengunakan lampu minyak tanah
gantung, duduk bersama di meja makan. Semuanya bisa terlaksana karena almarhum
Simbah sangat “ welcome” terhadap teman
teman bapak. Tidak ada tempat dan fasilitas untuk tidur, namun juga menyediakan
makan makanan yang tentu barang tersebut waktu itu termasuk mahal. “ Kuwi nek do mangan jan kaya
meri kae…..” demikain Pak Khamdi bercerita. Almarhum Simbah pun menyeritakan, “
woo biyen kuwi yen do sinau nang omah mburi kae, maem wis do tak cepaki nang
lemari, kari pada nyupuk dewe dewe ““Dadi aku,
Much Ramli, Wilarso, Warno karo Harno kuwi kanca sinau, kanca dolan kanca
sekolah. Awan bengi dadi siji…( jadi saya, Much Ramli ,Wilarso, Warno, dan
Suharno itu teman belajar,bermain dan sekolah). Aku kuwi bocah Karanglo
Kebonrejo, ning uripe nang Kauman saben dinane. ( saya itu anak Karanglo
Kebonrejo, tetapi hidupnya itu di Kauman Salaman ). Melu orkes gambus,
pimpinane Pak Kiai Ambyah Kauman kae, karo Much Ramli….turune nek ora nang
nggone Much Ramli yo neng Wilarso lor dalan.Masih sempat mendengar cerita beliau tentang masa kanak kanaknya, cerita tentang kekejaman masa penjajahan jepang. Cerita yang tidak jauh berbeda dengan cerita dari almarhum bapak, tentang kewajiban setor padi, kewajiban untuk masuk ke lobang tanah untuk antisipasi bahaya udara, kewajiban untuk menanam kapas dan jarak dsb.
" Ana telung rumus kangone urip kuwi, supaya bisa sehat..atine seneng, awak sehat, awet urip '( Ada tiga hal yang perlu di jaga dalam hidup itu, hati senang, badan sehat dan panjang umur. ) Kemudian menjabarkan tentang, ketiga hal tersebut, dan menunjukan contoh contohnya. Kami semua dengan takzim mendengarkan. Gaya berbicara yang sederhana, diselingi dengan humor dan dialek khas yang selalu saya kenal, membuat betah untuk selalu setia mendengarkan. Seandaikata saya tidak harus pulang malam itu ke Jakarta, mungkin masih butuh 1 hingga 2 jam lagi. Jam dinding kuno didingnya sudah berdentang 2 kali, sebentar jangan dihiraukan bunyi dentang jam itu, biarlah. Kalimat itu ada ungkapan yang tersirat kerinduan untuk bertemu. Namun ketika jarum jam sudah menunjukan pukul 02.30 saya harus nyuwun pamit, untuk sekedar singgah sebentar di rumah Hariyanto yang berada di depannya. Sesuai janji saya dulu, saya mau main ke Kateki Kebonrejo, ning aku sowan bapak dulu baru ke tempat sampean.
![]() |
| Tetap segar dan mengendarai sepeda motor sendiri. |
![]() |
| Rama Guru Khamdi bersama Hariyanto anak ketiga yang sekaligus teman penulis tanpak Vespa P150X yang digunakan sewaktu berdinas mengajar dahulu di SMPN 1 Salaman |





