Rabu, 23 Januari 2019


PRASASTI PLUMPUNGAN  SALATIGA
Bersama keluarga tanggal 26 Desember 2018 mengunjungi Prasasti Plumpungan.

                Berakhirnya masa pra aksara atau dahulu disebut dengan prasejarah dengan dikenalnya tulisan. Pemakaian tulisan dalam kehidupan masyarakat salah satunya dikenal melalui prasasti. Prasasti adalah sebuah piagam yang berasal dari bahan tahan lama sepeti batu atau lempengan logam. Prasasti memberikan sumber informasi  penting karena memiliki sumber informasi penting yang berisi kronologi suatu peristiwa. Selain itu juga memuat sejumlah nama dan penanggalandari suatu peristiwa pada masa lalu. Kerajaan Mataram Hindu atau sering disebut dengan istilah Kerajaan Medang Kamulan, adalah salah satu kerajaan yang banyak mengeluarkan prasasti .
                Prasasti Plumpungan adalah salah satu prasasti yang dikeluarkan pada masa kerajaan Mataram Hindu,hal itu apabila menunjuk kepada angka tahun dikeluarkannya. Prasasti yang terdapat di Kelurahan Kauman Kidul, Kec Sidorejo , Kota Salatiga  Jawa Tengah. Letaknya cukup strategis, berada di dekat ruas jalan tol Bawen Salatiga. Jarak dari pusat kota ( bunderan Salatiga ) menuju ke lokasi kurang lebih 2.3 km kea rah timur. Menelusuri jalan Pattimura, arah yang menuju ke Pabelan dan Bringin. Setelah  Toko Batik Selotigo , dan situs Waturumpuk terdapat ruas jalan tol. Sebelum masuk ke terowongan jalan tol belok ke kanan, terdapat papan nama sebagai petunjuk.  
Penetapan Sima
                Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Medang yang pernah berkuasa di  Jawa Tengah pada abad ke 8- 10 M ini mengenal istilah daerah swatantra atau sima. Daerah Sima adalah daerah perdikan dimana , warga masyarakatnya dibebaskan dari kewajiban membayar pajak ke kerajaan. Penetapan daerah sima dilaksanakan dengan upacara, manusuk sima . Dengan adanya upacara manusuk sima tersebut, suatu daerah resmi menjadi perdikan, dengan ketentuan bebas dari pembayaran segala macam pajak. Namun memiliki persyaratan untuk menjaga dan melestarikan bangunan suci yang ada di dalamnya.
pada bidang datar tersebut pahatan tulisannya


                Prasasti Plumpungan yang berukuran  panjang 163 cm x lebar 163 cm dan tinggi 90 cm ini,berbahan batu andesit warna merah abu abu. Jenis bantuan yang sering terdapat di daerah dengan tektur lempung / tanah merah. Di dalamnya terdapat tulisan yang  ditatah dalam petak persegi empat bergaris ganda yang menjorok ke dalam dan keluar pada setiap sudutnya. Mengunakan huruf  Jawa Kuno dan berbahasa Sanskerta. berisi tentang pemberian tanah perdikan.
Dalam  sejarahnya,  Prasasti Plumpungan ini  berisi ketetapan hukum kerajaan , tentang suatu ketetapan status sima,  tanah perdikan atau  swantantra bagi Desa Hampra. Pada masa Kerajaan Mataram Hindu, penetapan ketentuan status tanah sebagai perdikan, sima, atau swastantra ini merupakan peristiwa yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di daerah Hampra. Penetapan prasasti merupakan dasar bagi  berdirinya daerah Hampra sebagai daerah perdikan atau swantantra. Desa Hampra tempat prasasti itu berada, kini masuk wilayah administrasi Kota Salatiga. Dengan demikian daerah Hampra yang diberi status sebagai daerah perdikan yang bebas pajak pada zaman pembuatan prasasti itu adalah daerah Salatiga sekarang ini. Para pakar arkeologi dan epigraf  telah memastikan bahwa penulisan Prasasti Plumpungan dilakukan oleh seorang citralekha (penulis) disertai para pendeta (resi). Raja Bhanu yang disebut-sebut dalam prasasti tersebut adalah seorang raja besar pada zamannya yang banyak memperhatikan nasib rakyatnya.
Menurut Berita  Penelitain Arkeologi  No 37 tahun 1986  tulisan Machi Suhadi dan MM Sukarto , bahwa pertama kali di temukan di tahuun 1898. Tidak ada penjelasan siapa yang pertama kali menemukan prasasti terebut. Meningat daerah sekitar Salatiga pada waktu itu, banyak terdapat perkebunan milik Belanda yang membentang dari Bawen, Getasan sampai Bringin.  Pada mulanya berada di pekarangan rumah miliki Djainoe bin Amat Suratin warga Kauman Kidul Salatiga Luar Kota. Setelah pemekaran kota Salatiga daerah itu masuk  Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga.
Isi Prasasti Plumpungan
                Seorang ahli filolog Belanda  Johannes Gijbertus de Casparis telah berhasil membacanya dan menuliskan pada disertasinya pada tahun 1950. Oleh de Casparis berhasil di baca dan disempurkan oleh Dr.RM. Poerbatjaraka sebagai berikut :
1.       /Srir = astu swasti prajabyah sakakalatita 672/4/31/..(..)
2.       Jnaddyaham //O//
3.       //dharmmartham ksetradanam yad = udayajananam yo dadatisabhaktya
4.       hampragramam triaramyamahitam = anumatam siddhadewyasca tasyah
5.       kosamragrawalekhaksarawidhiwidhitam prantasimawidhanam
6.       tasyaitad = bhanunamno bhuwi bhatu yaso jiwitamcatwa nitya
artinya :
1.       Semoga bahagia ! Selamatlah rakyat sekalian ! Tahun Saka telah berjalan 672/4/31 (24 Juli 760 M) pada hari Jumat
2.       tengah hari
3.       Dari dia, demi agama untuk kebaktian kepada yang Maha Tinggi, telah menganugerahkan sebidang tanah atau taman, agar memberikan kebahagiaan kepada mereka
4.       yaitu desa Hampra yang terletak di wilayah Trigramyama (Salatiga) dengan persetujuan dari Siddhdewi (Sang Dewi yang Sempurna atau Mendiang) berupa daerah bebas pajak atau perdikan
5.       ditetapkan dengan tulisan aksara atau prasasti yang ditulis menggunakan ujung mempelam
6.       dari dia yang bernama Bhanu. (dan mereka) dengan bangunan suci atau candi ini. Selalu menemukan hidup abadi

DR RM. Poerbatjaraka, membantah pendapat J.G.de Casparis yang menyatakan bahwa prasasti itu bersifat agama Buddha.  Menurut Poerbatjaraka prasasti itu bersifat Hindu-Saiva, karena nama Isa yang disebut-sebut dalam prasasti adalah nama lain dari Siva, sedangkan JG de Casparis menyatakan bahwa Isa adalah sebutan untuk Buddha. Sedangkan nama tempat dalam prasasti Plumpungan dibaca oleh JG de Casparis dengan Trigramvya, namun pembacaan itu diluruskan oleh RM  Poerbatjaraka menjadi Trigostya, yang dalam bentuk biasa diucapkan Trigosti yang merupakan sinonim dari Trisala, kata ini sampai sekarang masih tersisa menjadi Salatiga ( lihat Boechari 1964: 122).
Dasar Hari Jadi Kota Salatiga
                Kota Salatiga seluas  58,781 Km dengan berbatasan sepenuhnya dengan Kabupaten Semarang ini pada masa Hindia Belanda telah ditetapkan menjadi  Staat Gemente, berdasarkan Staatsblad 1917 No. 266 mulai 1 Juli 1917 yang daerahnya terdiri dari 8 desa. Penetapan tersebut bersama sama dengan Kota  Magelang. Pekalongan, Semarang dan Tegal di Jawa Tengah. Dalam memperingati  Hari Jadi nya Kota Salatiga tidak mendasarkan pada penetapan Staat Gemente, karena jauh sebelum penetapan tersebut Salatiga telah tumbuh menjadi satu kesatuan masyarakat. Hal itu terbukti dengan di pilihnya Salatiga untuk melakukan Perjanjian Salatiga antara Sunan Paku Buwono III, VOC  dengan  Pangeran Sambernyawa atau RM Said. Perjanjian Salatiga tersebut yang kemudian menandai Pembagian wilayah  Kasunanan menjadi dua bagian yaitu Kasunanan dan Mangkunegaran.
Yoni dengan motif sederhana
                Ahli arkeologi dan epigraf senior  Drs. MM Sukarto Kartoatmodjo dalam penelitian Hari Jadi Salatiga merujuk kepada Prasasti Plumpungan tentang di tetapkan daerah Hampra sebagai sima pada tanggal  24 Juli 760 M. Sebagai seorang arkeolog dan epigraf senior yang sudah berpengalaman cukup lama, tentu memiliki alas an yang kuat tentang pemilihan tanggal tersebut. Berdasarkan prasasti ini Hari Jadi Kota Salatiga dibakukan, yakni tanggal 24 Juli 750 yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II Kota Salatiga Nomor 15 Tahun 1995 tentang Hari Jadi Kota Salatiga.
Rumah Arca

                Setelah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Salatiga sebagai dasar hukum Hari Jadi Salatiga , prasasti yang telah di lindungi dengan UU No 11 tahun 2010 kemudian dijadikan sebagai cagar budaya. Lokasi prasasti yang semula berada di halaman rumah penduduk kemudian dibebaskan , dan didirikan bangunan baru dibagian belakang untuk menyimpan beberapa benda purbakala yang ditemukan disekitar Salatiga.  Pada saat ini di jaga oleh seorang petugas yang rajin membersihkan lingkungan prasasti tersebut. Petugas ini adalah pegawai dari  BPPC Jawa Tengah, posisinya mengantikan dari pakdenya yang telah pensiun, kebetulan masih keturunan dari pemilik lahan yang dibebaskan. Selain sebagi tempat untuk  menyimpan arca , sekaligus sebagai tempat untuk menerima tamu yang berkunjung dengan disediakan buku tamu. 
beberapa koleksi rumah arca

Yoni dengan kemuncak candi
Salah satu koleksi yang diragukan benda purbakala
apabila dilihat dari motif ukiran dan jenis batu andesitnya

Minggu, 20 Januari 2019


CANDI SEGI DELAPAN MENOREH SALAMAN


bagian yoni yang terbalik


bagian potongan yoni yang tampak di permukaan tanah. rawan tergerus lahan pertanian disekitarnya.
Menyebutkan candi Wurung di kabupaten Magelang akan merujuk kepada tiga tempat yaitu  Dusun Kanggan, Ringgin Putih ,Borobudur . Kedua Dusun Plandi Sukodono, Pasuruhan ,Mertoyudan  dan ketiga adalah Dusun Candi , Desa Menoreh Kecamatan Salaman.  Magelang dengan daerah berupa hamparan cekungan  Pegunungan yang subur, sangat mendukung untuk didiami sejak dahulu kala, hal itu yang menyebabkan banyak terdapat peninggalan sejarah . Peninggalan sejarah tersebut menunjukan bahwa, di daerah tersebut  telah terdapat satuan masyarakat dengan kebudayaannya. Candi Borobudur merupakan salah satu bukti keberadaan peradaban masyarakat setempat cukup tinggi.
 Salaman, merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Magelang sisi barat daya.Dengan bentangan Pegunungan Menoreh yang menjadi latar belakangnya di sebelah selatan. Sekaligus menjadi batas alamiah, dengan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Purworejo. Kaki Pegunungan Menoreh tersebut, terdapat situs candi wurung. Terletak di Dusun Candi, Desa Menoreh Kec Salaman Kabupaten Magelang. Berada di sebelah barat perkampungan , sebelah jalan menuju ke Dusun Ngemplak Desa Menoreh. Situs tersebut berupa gundukan tanah di areal sawah warga desa tersebut
Gapura masuk Dusun Candi Menoreh dari arah timur.
keberadaan situs ada disebelah barat dusun, 100 meter dari gapura

Menoreh pada masa lalu sudah menjadi pusat perhatian masyarakat, karena menjadi pusat pemerintahan distrik saat colonial Belanda. Sudah tentu keberadaannya sangat di kenal oleh berbagai kalangan. Salah satunya adalah  J. Knebel seorang arkeolog Belanda dari Comissie In Nderelandsch Indie Voor auclheidundige Onderzoek op Java en Madoera, cikal bakal Lembaga Arkeologi Indonesia. Pada  tahun 1911 untuk melakukan  penelitian. Besar kemungkinan berdasarkan laporan dari lurah desa yang diteruskan kepada wedana dan residen Kedu saat itu. Saat itu Knebel telah menemukan keberadaan situs candi ini, dengan adanya bentuk fragmen gerobak dengan tujuh ekor kuda, dewa laki laki , dan pilar pilar bentuk gajah. 
Candi bangunan bata                
Baskoro Daru Tjahyono, seorang arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta dalam penelitiannya selama tahun 2001-2002 berhasil menghimpun 40 situs candi yang berada di sekeliling Candi Borobudur dalam radius 15 km. Dari ke 40 situs tersebut terdapat 26 situs dengan bangunan dari batu bata. Termasuk didalamnya adalah situs Candi Wurung Menoreh Salaman. Pada saat penulis masih Sekolah Dasar, telah mengenal situs tersebut melalui salah seorang teman sekolah yang tinggal di dusun tersebut. Pada decade 1980 an, masih berupa gundukan tanah di tengah sawah penduduk, dengan tiga batang pohon kelapa yang menjulang. Akses menuju ke sana belum serapi dan sehalus sekarang, masih jalan kampung tanah padat dengan batuan kerikil.
lokasi situs candi wurung Menoreh berada di gerumbul tengah pesawahan milik penduduk.

                Balai Purbakala mulai serius melakukan penelitian pada tahun 1990 an, berdasarkan laporan dari Pegawai konservasi purbakala yang berasal dari daerah setempat. Balai Purbakala melakukan peninjauan dan menemukan beberapa komponen bangunan candi meliputi yoni, patung siwa, ganesa dan patung yang belum jelas. Komponen tersebut kemudian diamankan di Museum Purbakala Borobudur dengan register ( J.229).                Yoni yang terlihat ada dua buah, satu tinggal menyisakan setengah badan sampai ceret masih utuh. Sedangkan yang satunya dalam kondisi terbalik, terbuat dari batuan andesit warna abu abu. Menurut laporan Purbakala tahun 1997-1998 sebenarnya terdapat, tiga yoni. Namun untuk yang satunya belum tertemukan sampai saat ini. Selain komponen arca, yoni juga ditemukan relief singa pada cerat candi.
               
Berdasarkan pengalian besar besar pada tahun 2001-2002 berhasil ditemukan susunan bangunan berasal dari batu bata dengan bentuk segi delapan ( hexagonal) . Suatu bentuk candi yang langka ditemukan di Jawa Tengah.  Material bangunan adalah batu bata, dengan isian adalah batu bulat utuh. Sebelum dilakukan pengalian telah ditemukan sebaran batu bata yang memiliki ukuran cukup besar yaitu panjang 29- 35 an cm , lebar 20 an cm x 24 cm, dan tebal 10 cm x 11 an cm. Dengan bentuk bata balok, bata penyangga, bata penyiku, bata pengunci, dan bata profil ( pingulan) . Namun sayangnya sebaran batu bata kuto tersebut telah menyebar ke sejumlah kawasan , bahkan beralih fungsi untuk pondasi rumah, titian, pijakan pematang sawah. Hal itu dikarena kurangnya wawasan masyarakat akan arti pentingnya bangunan kuno. 
tampak potongan batu bata yang diguakan
oleh penduduk untuk pijakan pematang sawah

Bahkan Purbakala menemukan jejak jejak pengalian liar berdasarkan struktur tanah galian yang tidak beraturan. Hal tersebut adalah ulah para pemburu barang antik yang dikomersilkan.                Berdasarkan dari keterangan tersebut dapat disimpulkan kalau banguan Candi Wurung di Menoreh Salaman tersebut mengunakan dua material utama. Untuk kontruksi banguan mengunakan bahan batu bata, sedangkan sarana pemujaan yaitu arca sebagai bentuk pantheon dan yoni mengunakan batu andesit beku vulkanik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Candi Wurung ini adalah bersifat Hindu Siwaistis.
Pasangan lingga dan yoni adalah lambang alat kelamin laki - laki dan perempuan. Kamus Bahasa Jawa menjelaskan bahwa “Lingga tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk; Lingga, lambang kemaluan lelaki (terutama Lingga Siwa dibentuk tugu batu), patung dewa, titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu”. “Yoni rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara dan ayonia."


Dengan ditempatkan lingga yoni di suatu tempat menunjukan  bahwa tempat tersebut adalah daerah yang sangat subur. Hal ini dapat dipastikan di mana pasangan lingga yoni ditemukan, maka lingkungannya adalah lingkungan agrasis yang subur. Lingga yoni paling sering ditemukan berada di dekat candi. Lingga berbentuk batu tegak seperti kemaluan laki - laki dengan bentuk bujur sangkar pada bagian paling bawah, segi delapan pada bagian tengah dan bulat di bagian teratas. Pada bagian bujur sangkar inilah kemudian ditanamkan pada yoni. Lingga berasal dari kata sansekerta yang berarti tanda, ciri, isyarat, bukti dan keterangan. Lingga adalah pengembangan bentuk pemujaan dari  jaman lebih kuno yaitu menhir. 
 Modal Dasar Pengembangan.                
Bagi Desa Menoreh sebetulnya keberadaan situs ini, adalah modal dasar untuk mengembangkan ekonomi desa. Pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat terangkat dengan mengembangkan wisata sejarah, tentunya dengan dukungan Pemerintah melalui Balai Purbakala untuk melakukan pengalian dan rekontruksi kembali. Kegiatan pengalian yang pernah dilakukan justru tidak berlanjut, hasil penelitian kembali dikubur demi alas an keamanan benda purbakala. Apabila hal tersebut dilakukan kembali, dan bersinergi dengan Pemerintah Desa merupakan asset yang besar untuk kesejahteraan masyarakat. Potensi sejarah Menoreh sangat beragam, banyak situs sejarah yang mewakili bentangan jaman. Mulai jaman Mataram Hindu, Islam,dan  Belanda semua tersaji lengkap. Tinggal daya dukung dari berbagai pihak untuk dapat mengelolanya. Selain itu juga menjadi kebanggaan warga masyarakat, yang menimbulkan rasa prestise terhadap daerahnya.                

Selasa, 22 Mei 2018






                            "SOWAN ROMO
Penulis bersama Pak Khamdi. Sama sama guru


GURU DIDIK KHAMDI"





Dalam anganku sudah kurancang jauh, untuk “sowan” silaturahmi kepada Pak Khamdi. Beberapa informasi lewat media social dan Hariyanto sang anak , mengabarkan kalau beliau dalam kondisi sehat,bugar dan masih segar semuanya.Puji Tuhan...ungkapan syukur yang selalu keucapkan. Ya.. Beliau memang begitu sangat istimewa bagi saya, beliau adalah sosok guru yang sangat saya kagumi dalam beberapa hal, terutama kesederhanaan dan kesahajaan hidupnya. Sempat ada rasa khawatir juga untuk tidak bisa mengunjungi beliau, karena posisi saya berada di Jakarta, tempat tinggal dan sebagai seorang guru juga. Mengingat usia beliau yang sudah sedemikian lanjut, apalagi kalau mengingat teman teman beliau sudah banyak yang “game over”. Termasuk almarhum bapak saya, sebagai salah satu dari kawan karibnya semenjak SMP dahulu.
Aries Totok bersama Pak Khamdi
Masa muda  1956. Pak Warno, Pak Ramli, Pak Wilarso
Pak Khamdi dan Pak Suharno
Kesempatan itulah yang akhirnya diberikan oleh Tuhan Allah kepadaku untuk pulang kampung, tujuan utama saya adalah untuk membenahi makam kedua orang tuaku yang belum sempat kurapikan. Tanggal 9 Mei 2018, naik Bis Ramayana dari Agen Tiket Palsi Gunung Cimanggis Depok. Sehari setelah gegeran Mako Brimob dengpanp teroris, yang menyebabkan saya harus memutar jalan ketika beli tiket.Hari Sabtu tanggal 11 Mei 2018, setelah urusan dengan tukang dan belanja kebutuhan tukang untuk makam selesai. Beberapa teman lama datang di rumah adikku, mereka adalah Aries Totok  yang baru pulang kerja dan  Hariyanto teman SMP ku yang baru lepas pulang dinas dari AKMIL. Pagi harinya sambil belanja material, saya sempatkan mampir ke Mbak Tinuk, pedagang makanan kecil yang sejak saya kecil dulu, beberapa makanan kecil masa lalu masih tersaji. Adikku menunjukan beberapa hal, kuwi De Gethuk cotot...iki sego megana dsb...Sambil ditemani dengan teh nasgitel dan makanan makanan kecil tadi .Tak beberapa lama kemudian bergabung Nurifai dari Kauman. Setelah ngobrol kesana kemari, dahulu Hariyanto pernah dinas di ZIKON 13 Jakarta, kebetulan berada dibelakang rumahku di Jakarta. Walaupun tidak sering, namun selama di Jakarta kami sering ketemu bersama. “ Bapak sehat to Har ?” Tanyaku kepadanya. “ Sehat Mas…”.Pertemuan di rumah Totok adiku diakhir dengan kesepakatan untuk berlanjut untuk sowan Pak Khamdi siang itu juga. Sebelum sowan Pak Khamdi kami mengajak makan bersama di  warung makan Mangut Welut Pancar Ngampeldento Salaman. “Aku nggo klambi ko ngene iki “Kata Hariyanto sambil menghidupkan motornya dan menunjukan baju dorengnya. Logikanya itu melewati dusun Kateki tempat tinggal Hariyanto dan Pak Khamdi. Perjalanan indah dan menyenangkan, Gunung Sumbing dan Pegunungan Potorono, Sikapat tampak indah. Begitu sangat indah,hamparan sawah yang hijau dengan angina segar yang sepoi sepoi. Bagiku itu adalah sesuatu yang mahal dan indah, karena kesehariannku ada di Jakarta yang penuh macet dan sesak. Anganku kembali mengingat, OO….disinilah teman temanku SMP dahulu, waktu itu jalan masih macadam, teman teman masih mengunakan sepeda untuk pergi sekolah. Jembatan Kali Tangsi masih bambu, menurut cerita dibangun permanen beberapa kali tetaplah runtuh keterjang banjir. Mangut welut Pancar…tercapai juga anganku setelah mengetahui lewat internet dan medsos. Cukup mengenyangkan dan enak menurut saya, sepaket terdiri dari nasi “kemebul” hasil dangdangan , sepiring urap, secobek sambel ijo, 2 piring wader goreng.Masing masing sepiring mangut welut.“ Unjukane teko teh benter sedaya nggih “ demikian sapaan khas Magelangan utamanya Salamanan.. ( Minuman dibuat teh panas semua aja ya ).Rencananya saya mau menraktir mereka semua, tetapi keduluan Hariyanto. Selepas makan siang, kami berempat menuju rumah Pak Khamdi di Kateki, sekaligus bagi Hariyanto adalah perjalanan pulang. Tidak banyak yang berubah ujud fisiknya daerah itu, jalanan lebih mulus dan ramai lalulintas. Bangunan rumah tidak bertambah signifikan, kebanyakan rumah sudah banyak yang permanen. Dengan ragam dan model gaya kota.Desa Ngampeldento lebih dikenal Pancar,Tanjunganom, Purwosari, Jebengsari, Kebonrejo itulah desa desa yang saya lintasi.Sepanjang jalan memoriku masih mengingat akan masa lalu daerah itu, jalan jalan yang baru maupun yang lama.Hanya sedikit agak panas, ketpelusuri pedesaan itu, hampir merata. Pohon pohon tinggi yang rindang, sudah banyak ditebangi demi keamaan pemukiman. Pohon pohon rambutan yang dulu begitu berjaya, seolah hilang. Beberapa sumber mengatakan sudah tidak ekonomis dan menguntungkan. Mungking juga ketika , hujan abu letusan Merapi tahun 2010 yang lalu banyak merobohkan pohon rambutan. Begitu kami sampai di depan rumah beliau, saya masih hafal bentuk rumah permanen  dan untuk beberapa kali sering berkunjung kesana. Baik sendiri sendiri maupun dengan almarhum bapak saya. Ada beberapa perubahan penting, terakhir saya sowan tahun 2000 awal saya ke Jakarta, dan menyampaikan ketemu dengan Hariyanto di Jakarta, rumah itu masih direnovasi bagian atap. Saya melihat bagian rumah sudah diplester dan berlantai keramik.Hariyanto yang masuk terlebih dahulu, beliau membukakan pintu. Sosok yang tidak asing bagi saya, begitu melihat Pak Khamdi sehat dan segar. Seraya saya bersyukur kepada Tuhan ALLAH dan hati sayapun merasakah kebahagiaan yang dalam. Sungguh anugerah dari Tuhan Allah bagi saya masih bisa sowan silaturahmi kepada Pak Khamdi. Dari balik pintu, sosok bapak guruku yang selama ini aku kenali, seraya dalam mimpi, postur tubuh yang tinggi, wajah ceria segar dengan rambut sudah memutih semua.“ Kulo nuwun Bapak, dalem sowan nyaosaken sungkem pangabektos” sambil berjabat tangan dengan cium tangan. Erat sekali beliau memegang pundak pundak kamipun di pegang dengan erat. Kamipun dipersilahkan duduk. Meja kursi tamu seperti yang dahulu sewaktu saya sowan dan bermain ke rumah Hariyanto.“ Hlo, ko..bisa barengan, iki pada seko ndi ? “ demikian sapanya.“Nggih Pak sampun semadosan , nika mumpung Adji wangsul “Jawab Aries.“ Prei po Nung….” Demikian beliau memanggil saya sama seperti alm bapak memanggilku dulu.“ Inggih nika, kulo legaaken, nyekar lajeng kempal kanca kanca”Pembicaraanpun mengalir menanyakan kondisi masing masing, anak anak kami satu persatu. Bahasa Jawa yang khas yang sering saya dengar, ketika dulu beliau masih sering main kerumah untuk bercerita bersama dengan almarhum bapak. Anganku, citrakku dan memori membangkitkan kenangan akan almarhum bapak. Seolah olah bapak ikut hadir dalam perbincangan siang itu. Sesekali beliau mempersilahkan untuk menikmati makanan yang tersaji di meja. Beliau memang masih banyak tamu yang datang berkunjung, baik kerabat,relasi, sahabat dan kenalan kenalan. Rekan rekan guru yang lebih mudah dan masih akttif mengajar di SMP Negeri 1 Salaman beberapa masih sering datang berkunjung. Interior rumahnya dipenuhi barang barang antik, baik lampu, kapstok, hiasan dinding. Terlihat juga foto presiden dan wakil presiden yang pernah menjabat di Indonesia. Sambil bercerita tentang masa remajanya yang banyak tinggal di Kauman, ketika bersama sama sekolah di SMP Kusuma ( sekarang SMP Salaman 1953). Sewaktu saya masih kecil, sering mendengar cerita almarhum bapak tentang masa sekolahnya. Rumah Simbah Hardjodiryo,bulik sekaligus orang tua angkat almarhum bapaku tempat favorit bagi teman teman untuk belajar bersama. Mengunakan lampu minyak tanah gantung, duduk bersama di meja makan. Semuanya bisa terlaksana karena almarhum Simbah sangat  “ welcome” terhadap teman teman bapak. Tidak ada tempat dan fasilitas untuk tidur, namun juga menyediakan makan makanan yang tentu barang tersebut waktu itu termasuk mahal.               “ Kuwi nek do mangan jan kaya meri kae…..” demikain Pak Khamdi bercerita. Almarhum Simbah pun menyeritakan, “ woo biyen kuwi yen do sinau nang omah mburi kae, maem wis do tak cepaki nang lemari, kari pada nyupuk dewe dewe ““Dadi aku, Much Ramli, Wilarso, Warno karo Harno kuwi kanca sinau, kanca dolan kanca sekolah. Awan bengi dadi siji…( jadi saya, Much Ramli ,Wilarso, Warno, dan Suharno itu teman belajar,bermain dan sekolah). Aku kuwi bocah Karanglo Kebonrejo, ning uripe nang Kauman saben dinane. ( saya itu anak Karanglo Kebonrejo, tetapi hidupnya itu di Kauman Salaman ). Melu orkes gambus, pimpinane Pak Kiai Ambyah Kauman kae, karo Much Ramli….turune nek ora nang nggone Much Ramli yo neng Wilarso lor dalan.

Masih sempat mendengar cerita beliau tentang masa kanak kanaknya, cerita tentang kekejaman masa penjajahan jepang. Cerita yang tidak jauh berbeda dengan cerita dari almarhum bapak, tentang kewajiban setor padi, kewajiban untuk masuk ke lobang tanah untuk antisipasi bahaya udara, kewajiban untuk menanam kapas dan jarak dsb. 
" Ana telung rumus kangone urip kuwi, supaya bisa sehat..atine seneng, awak sehat, awet urip '( Ada tiga hal yang perlu di jaga dalam hidup itu, hati senang, badan sehat dan panjang umur. ) Kemudian menjabarkan tentang, ketiga hal tersebut, dan menunjukan contoh contohnya. Kami semua dengan takzim mendengarkan. Gaya berbicara yang sederhana, diselingi dengan humor dan dialek khas yang selalu saya kenal, membuat betah untuk selalu setia mendengarkan. Seandaikata saya tidak harus pulang malam itu ke Jakarta, mungkin masih butuh 1 hingga 2 jam lagi. Jam dinding kuno didingnya sudah berdentang 2 kali, sebentar jangan dihiraukan bunyi dentang jam itu, biarlah. Kalimat itu ada ungkapan yang tersirat kerinduan untuk bertemu. Namun ketika jarum jam sudah menunjukan pukul 02.30 saya harus nyuwun pamit, untuk sekedar singgah sebentar di rumah Hariyanto yang berada di depannya. Sesuai janji saya dulu, saya mau main ke Kateki Kebonrejo, ning aku sowan bapak dulu baru ke tempat sampean. 
Tetap segar dan mengendarai sepeda
motor sendiri.

Rama Guru Khamdi bersama Hariyanto
anak ketiga yang sekaligus teman penulis
tanpak Vespa P150X yang digunakan sewaktu
berdinas mengajar dahulu di SMPN 1 Salaman

Senin, 13 November 2017

KISAH TRAGIS SANG PANGERAN




GPH Hadiwijoyo adalah putera  ke 12 dari  Sinuhun Amangkurat  IV ( Jawi ) ing Kartosura dengan Mas Ayu Karoh .Lahir dengan nama RM Subekti Setelah dewasa menikah dengan R Ay Sentul melahirkan  RMT Kusumadiningrat/ KPH Kusumadiningrat. GPH Hadiwijoyo ini meruakan kakak dari BPH Mangkubumi  Sultan Hamengkubuwono  ke I yang merupakan putera ke 15. Beliau bertempat tinggal di Kampung Gajahan  sebelah barat karaton. Dalem Hadiwijayan adalah sebuah rumah yang ditempati oleh GPH Hadiwijaya, adik Sunan Paku Buwono II yang kemudian juga dikenal dengan sebutan BPH Hadiwijaya Seda Kaliabu, sebab beliau tewas dalam pertempuran di Desa Kaliabu Kec Salaman  Magelang.  Salah satu cicit Pangeran Hadiwijaya adalah  KGPAA Mangkunegara IV yang bernama kecil RM Sudira. Latar belakang perlawanan P.Hadiwijaya terhadap VOC sangat berkaitan erat dengan ketidakpuasan kalangan karaton . Akibat dari kedekatan Paku Buwono II ( saudaranya) dengan VOC yang akhirnya ikut campur tangan didalamnya.  Puncak dari ketidakpuasan keluarga keraton dengan PB II dan VOC akhirnya memunculkan  adanya konflik  "perang Mangkubumen" antara tahun 1746 - 1755 M . Perang yang dimulai 19 Mei 1746 dan  berakhir dengan adanya Perjanjian Giyanti (palihan nagari). Lewat Perjanjian Giyanti antara Sri Sunan Paku Buwana III dengan Pangeran Mangkubumi (putra Amangkurat IV) pada 13 Pebruari 1755 M (29 Rabiulakir 1680 J), Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Konsekuensi logis adanya Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi kemudian bergelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senopati Ingalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping I ing Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam perspektif sejarah keberhasilan perjuangan Hamengku Buwono I tersebut tidak terlepas dari dukungan aliansi para pejuang, kerabat (sedherek dan sentana dalem), kelompok-kelompok prajurit di bawah pimpinan Rangga Prawirasentika, dilengkapi dengan penerapan strategi perang gerilya yang jitu. Beberapa kerabat atau sedherek dalem yang dapat disebut telah memberikan dukungan dalam perjuangan itu adalah, Pangeran Hadiwijaya (RM. Subekti). Kedua, adik Pangeran Mangkubumi yaitu Pangeran Singasari (RM. Sunaka). Ketiga, Pangeran Hangabehi (RM. Sandeya) yang setelah Perjanjian Giyanti kemudian memilih jadi seorang Penghulu Pathok Negara pertama yang berada di Desa Mlangi. Keempat R.M. Said (Pangeran Sambernyawa), kemenakan sekaligus menantu Pangeran Mangkubumi yang di tengah perjuangan itu kemudian memisahkan diri dari Pangeran Mangkubumi dan memilih berjuang sendiri.
 Dalam melakukan perlawanan medan tempur mereka bagi sebagai siasat dan strategi perang. Pangeran Hadiwijaya memilih melakukan pertemuran di daerah Kedu bagian dari Negara Agung. Pada tahun 1753 RM Said ( P.Sambernyawa) menemui pamannya Pangeran Hadiwijaya di desa Tegal Bayem ( letak desa ini belum diketahui ). Setelah pertemuan itu , Pangeran Hadiwijaya melanjutkan perlawanan di daerah Magelang sekarang ini. Mas Ajeng Gondosari adalah salah satu istrinya yang setia mengikuti dalam perlawanan. Mas Ajeng ini yang selalu memberikan motivasi, dorongan dan dukungan untuk melakukan perlawanan. 
 Dalam melakukan perlawanan medan tempur mereka bagi sebagai siasat dan strategi perang. Pangeran Hadiwijaya memilih melakukan pertemuran di daerah Kedu bagian dari Negara Agung. Pada tahun 1753 RM Said ( P.Sambernyawa) menemui pamannya Pangeran Hadiwijaya di desa Tegal Bayem ( letak desa ini belum diketahui ). Setelah pertemuan itu , Pangeran Hadiwijaya melanjutkan perlawanan di daerah Magelang sekarang ini. Mas Ajeng Gondosari adalah salah satu istrinya yang setia mengikuti dalam perlawanan. Mas Ajeng ini yang selalu memberikan motivasi, dorongan dan dukungan untuk melakukan perlawanan.  Dalam melakukan perlawanan medan tempur mereka bagi sebagai siasat dan strategi perang. Pangeran Hadiwijaya memilih melakukan pertemuran di daerah Kedu bagian dari Negara Agung. Pada tahun 1753 RM Said ( P.Sambernyawa) menemui pamannya Pangeran Hadiwijaya di desa Tegal Bayem ( letak desa ini belum diketahui ). Setelah pertemuan itu , Pangeran Hadiwijaya melanjutkan perlawanan di daerah Magelang sekarang ini. Mas Ayu Gondosari adalah salah satu istrinya yang setia mengikuti dalam perlawanan. Mas Ayu Gondosari ini yang selalu memberikan motivasi, dorongan dan dukungan untuk melakukan perlawanan. 
Namun  1753 ketika Pangeran Hadiwijaya sedang mandi  di Kali Butek Kali Abu , disergap oleh pasukan VOC pimpinan Letnan Gulman. Ketika sedang melompat ke atas kuda untuk mengambil senjata, beliau tertembak. Kepala nya kemudian dipenggal  didepan isterinya. Oleh Letnan Gulman kepalanya dibawa ke erwakilan VOC di  Semarang untuk dimintakan hadiah. Sedangakan oleh isteinya  Mas Ayu Gondosari  bersama pengikutnya jenasahnya dimakamkan di Kali Abu Salaman Magelang.
                Kelak setelah Perjanjian Giyanti  13 Januari 1755 Pangeran Mangkubumi menjadi raja di Kasultanan Yogyakarta . Setelah Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757, RM Said menjadi Adipati  dengan gelar KGPAA Mangkunegara I di wilayah Mangkunegaran Solo. Baik P.Mangkubumi ( HB I) dan RM Said / Pangeran Sambernyawa ( MN I ) telah diangkat menjadi Pahlawan Nasional oleh negara. Kelak salah satu cicit ( buyut ) Pangeran Hadiwijaya ini yang bertahta sebagai Mangkunegara IV . Secara genealogis sejak Mangkunegara IV sampai sekarang Mangkunegara IX adalah keturunan dari  GPH Hadiwijaya.

Takdir memang menentukan lain, ketika perjuangan keponakannya yaitu, RM Said membuahkan hasil menjadi Adipate ( raja kecil otonom di Mangkunegaran ), dan  adiknya yaitu Pangeran Mangkubumi menjadi Sultan di Kasultanan Yogyakarta. Namun, Pangeran Hadiwijaya kelak cicit nya lah yang menerima anugerah untuk menduduki tahta di Mangkunegaran sampai ke turunanannya.Akhir dari perjuangan selama hampir 20 tahun, justru memberikan nasib yang tragis bagi Pangeran Hadiwijaya. Pengorbanan begitu tinggi, tewas dalam pertempuran di Kali Butek Kali Abu dalam kondisi  tidak siap dan seimbang. Kepala nya dipacung dan kemudian dibawa ke Semarang untuk dimintakan hadiah kepada Pembesar VOC di sana. Setelah Belanda pergi dan negara yang merdeka harapan telah terwujud , jasa dan jasadnya telah dilupakan. Kalau Pangeran Mangkubumi dan RM Said mengakhiri perlawanan mendapatkan kedudukan sebagai seorang raja dan adipati. Perjuangannya pun diakui oleh negara Republik Indonesia dengan dianugerahi gelar pahlawan nasional. Tetapi Pangeran Hadiwijaya terlupakan, mungkin hanya keluarga Mangkunegaran saja yang masih rutin berziarah setiap tahunnya. Masyarakat luas bahkan pemerintah daerahpun seolah tidak peduli dengan keberadaannya. Nasib tragis seorang pejuang dalam akhir hidupnya maupun setelah kematiannya.







Selasa, 26 September 2017

RM Ibu Haji Ciganea Cipularang Km 72


Salah satu tugas yang harus saya jalani ketika semester ganjil adalah monitoring Prakerin (Praktek Kerja Industri ) atau sistem magang dalam model  pembelajaran  di SMK .  Tahun  pelajaran 2017-2018 ini mendapat jatah untuk di Bandung.  Untuk di Bandung memang , tergolong tentative, artinya tidak setiap tahun ada yang kerja magang di sana. Padahal adalah beberapa  perusahaan yang menyediakan diri untuk bersedia ditempatkan kerja magang seperti  Pikiran Rakyat, PT Gramedia  Bandung, Krisna Batara . Tahun ini adalah  ada di PT Letter Mas, Jln. M. Toha Cigalegar Bandung.
Jumat tanggal 15 September 2017, adalah putaran terakhir untuk monitoring . Mengingat bulan Oktober nanti siswa kelas 12 sudah harus kembali ke sekolah lagi. Persiapan untuk tugas luar kota selalu saya sampaikan kepada keluarga. Hari itu , saya mempersiapkan  diri, sebelum berangkat ke Bandung, beberapa tugas domestic baik tugas mengajar dan tugas tugas structural saya selesaikan terlebih dahulu. Saya sudah memperkirakan untuk kembali ke Jakarta lagi pasti sampai malam.
Pukul 09.30 kami berlima   saya, Pak Sutiawan  ( Waka Kurikulum ), Pak Danar  , Pak Purnomo dan Ibu Hotma ( belum ibu…masih  Nona….dahulu siswa sekarang rekan kerja). Kami naik  PAJERO SPORT milik  Pak Sutiawan..yang beliau kemudikan sendiri. Sebenarnya mau mengajak Pak Hendra untuk menjadi driver cadangan, namun yang bersangkutan sedang ada kegiatan MGMP. 
Sudah beberapa kali saya melakukan monitoring ke Bandung, dan perjalanan ke Bandung itu sangat mengasyikan melewati Tol Cipularang . Entah sudah berapa kali TOL itu saya  lewati. Seingat saya 6 bulan setelah diresmikan  Ibu Megawati Sukarnoputeri , dan kondisi jalan masih belum lengkap saya berkesempatan lewat TOL itu.  Selain itu juga  kulinernya yang selalu mendorong untuk ikut ke Bandung.
Untuk kami bertiga memang sudah untuk keberapa kali mengikuti monitoring ini, tetapi untuk Pak Purnomo dan  Bu Hotma untuk yang pertama kali.  Pak Supriyanto…rekan saya mengajar mengatakan…nanti istirahatnya di  RM Ciganea itu….coba dech ada yang beda ….hmmm.  Walauun kapasitas makan saya terbatas, tapi sungguh merupakan refreshing juga.
                Pukul 11.45 sampailah di Rest Area Km 72 Cipularang. Tertera papan nama  RM  IHC  ( Ibu Haji Ciganea). Berlima kami masuki, memilih saung, nomer 8  untuk lebih rileks setelah perjalanan agak lama.

Tak lama kemudian , pramusaji sudah menyajikan seperangkat hidangan sangat lengkap  gepuk ,pepes ikan mas, ikan mas goreng, pepes tahu, tahu tempe goreng,  ikan wader goreng (beunter goreng  Sunda), ayam goreng , burung melon ,tutut,goreng, bakwan goreng , buah potong , sayurp asem, lalapan, 2 bakul nasi, sambel 2 cobek,. Sangat mengoda untk segera di makan..dari sekian itu semula saya tertarik pada gepuknya.  

Selasa, 11 April 2017

PERANAN RAKYAT SALAMAN DALAM PERANG DIPONEGORO



    ( Gambar Kuno serangan ke Magelang )                                                                                                                   
                                                                                                                                                                Menoreh pada masa colonial Belanda dahulu adalah nama untuk wilayah administrasi Salaman sekarang ini. Sebagai  Distrik bagian dari Regenschap Magelang sejak didirikan oleh Pemerintah Inggris pada  tahun 1810. Menoreh dipandang sangat penting bagi kalangan colonial Belanda. Karena berada di lembah Pegunungan Menoreh yang menjadi perbatasan dengan wilayah Kasultanan Yogyakarta dan Purworejo. Menoreh juga dilintasi jalur lama dari Magelang menuju Purworejo melewati  Dengkeng ( punggung Pegunungan Menoreh ), Cacaban, Kacangan, Banyuasin Kembaran sampai Tumbak Anyar ) yang nanti akan bertemu dengan jalan yang ke Gowong Menoreh Dekso lewat Tedunan  ( periksa Saleh A. Djamhari ,2004  119).Perang Diponegoro diawali pada 21 Juli 1825 , ketika Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dan pengikut yang berkumpul di Tegalrejo Yogyakarta. Pertempuran diawali oleh pemanggilan Residen Smissaerst terhadap Diponegoro . Pemanggilan ini berkaitan pertanggungjawaban terhadap berkumpulnya beberapa orang di daerah Kedua. Selain itu juga masalah pencabutan tiang pancang pembuatan jalan yang melintasi tanah Diponegoro tanpa ijin. Namun selain itu antara Diponegoro dengan Residen Smissaerst di Yogyakarta telah terjadi konflik pribadi. Mereka saling mempermalukan di depan umum.
Balai Desa Menoreh yang dibangun masa kepemimpinan 
Kepala Desa  Pak Much Cholil terdapat relief P. Diponegoro
menunjukan eksistensi dan pengakuan desa terhadap perjuangannya


            Ndalem Tegalrejo tempat Diponegoro tinggal, kemudian dikepung ,dihancurkan dan dibakar oleh pasukan Belanda. Diponegoro berhasil melarikan diri dengan jalan lari menjebol tembok barat pendopo. Diponegoro dan pengikutnya kemudian mundur ke Selarong yang telah dipersiapkan sebagai markas Besar.Peristiwa di Tegalrejo kemudian memicu perlawanan di beberapa tempat. Pada Tanggal 23 Juli 1825 distrik Probolinggo ( Salam ) dengan menyergap dan merampas pasukan bantuan. Pada tanggal 26 Juli 1825 perlawanan rakyat dilakukan dengan menyerbu Kota Magelang sebagai kediaman Bupati Magelang waktu itu. RA Danoeningrat I. Ndalem Kabupaten Magelang yang hanya dijaga oleh 50 orang menjadi sasaran penyerangan, menjadikan Bupati Danoeningrat dan pejabat karesidenan panik luar biasa. Kejadian itu juga terjadi di MENOREH ,perlawanan juga pecah dengan membakar dan merusak rumah rumah orang Belanda. :Saleh A Djambhari : 2004)

Perang Diponegoro  disebut juga  dengan istilah Perang Jawa (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog) adalah perang besar  selama lima tahun (1825-1830) di Pulau Jawa, masa colonial Hindia Belanda.Perang ini  salah satu pertempuran terbesar yang  dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara. Melibatkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock berhadapan dengan hampir penduduk Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Bagi masyarakat Jawa, perang itu sangat melegenda, yang melahirkan banyak cerita rakyat,mitos, dan legenda di tiap-tiap daerah perangnya. Dampak perang ini, penduduk Jawa yang tewas mencapai 200.000 jiwa, sedangkan  korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7000 serdadu pribumi. Akhir perang ini menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa semakin kuat. Wilayah Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta dikurangi, karena ikut bertanggung jawab akbat terjadinya perang.

            Pada masa perang Diponegoro ( 1825-1830 ) Menoreh memiliki peran yang sangat penting bagi perjuangan. Bagi pemerintah colonial Belanda cukup diperhitungkan keberadaannya. Rakyat Menoreh sangat menghormati sosok Diponegoro bahkan menghormatinya sebagai seorang sultan. Operasi territorial yang menerapkan metode intimidasi dan persuasi itu tidak banyak berhasil. Tindakan keras belanda terhada para penatus dan bekel yang dianggap tidak membantu menegakan keamanan tidak banyak membuahkan hasil.Mereka gigih tetap melindungi pasukan Diponegoro. ( periksa :Saleh A Djambhari : 2004 hal.119). Diponegoro sendiri menempatkan salah satu anaknya untuk menjadi pemimpin di perbukitan Menoreh.
            Belanda membuat pertahanan di Menoreh untuk menghadapi Diponegoro dengan ditempatkan pasukan Kolone Mobil 6 dipimpin Kolonel Cleerens. Dalam menghadapi Diponegoro Clerens memadukan dua operasi sekaligus, yaitu operasi tempur dan territorial. Bagi Belanda rakyat di Pegunungan Menoreh,, Trayumas,Kelir,Gowong, Ledok dan bagelen dinilai tidak bersahabat. Rakyat tidak ada yang mau memberikan informasi kepada Belanda tentang keberadaan pasukan Diponegoro. Ketika pasukan Belanda datang, pasar-pasar menjadi sepi, rakyat meninggalkan rumah mereka. ( periksa :Saleh A Djambhari : 2004 hal 119)


( SD Negeri Beteng 1 Menoreh, didirkan dibekas Beteng Belanda di Menoreh )
            Perang Diponegoro berlangsung cukup lama, Belanda merasakan kerugian cukup besar. Oleh karena itu dipergunakan siasat licik untuk menghakhir perang. Pada hari Senin 16 Preburari 1830 Diponegoro tiba di Remokawal daerah milik kasultanan Yogyakarta guna melakukan pertemuan dengan Kolonel Cleerens. Dalam pertemuan itu disetujui untuk berunding dengan jenderal Baron H Merkus De Kock di Magelang. Dalam perjalanan menuju Magelang Dipoengoro menolak melalui rute yang telah direncanakan. Menurutnya jika ia pergi ke magelang melalui Kalirejo –Kaliabu-Menoreh-Borobudur-magelang berarti tiga kali menyemberangi sungai Bogowonto., sesuatu yang menjadi pantangannya.  Kemudian diputuskan untuk mrengambil jalan memutar menyeberang Sungai Bogowonto di hilir.
            Pada tanggal 21 Pebruari 1830 Diponegoro tiba di Menoreh dengan pengawalan 700 prajurit. Kedatangannya disambut rakyat dengan penghormatan yang luar biasa. Rakyat secara sukarela Sedangkan Pasukan Diponegoro di Menoreh dipimpin oleh Mangkudiningrat sedangkan daerah pegunung Menoreh dipimpin oleh RM Sadewo atau Bagus Singlon. Putera DIponegoro dengan RA Mangkorowato. Pegunungan Menoreh yang membentak disebelah selatan Menoreh itu menjadi medan gerilya yang sulit ditaklukan oleh Belanda.  



            Perang Diponegoro berlangsung cukup lama, Belanda merasakan kerugian cukup besar. Oleh karena itu dipergunakan siasat licik untuk menghakhir perang. Pada hari Senin 16 Preburari 1830 Diponegoro tiba di Remokawal daerah milik kasultanan Yogyakarta guna melakukan pertemuan dengan Kolonel Cleerens. Dalam pertemuan itu disetujui untuk berunding dengan jenderal Baron H Merkus De Kock di Magelang. Dalam perjalanan menuju Magelang Dipoengoro menolak melalui rute yang telah direncanakan. Menurutnya jika ia pergi ke magelang melalui Kalirejo –Kaliabu-Menoreh-Borobudur-magelang berarti tiga kali menyemberangi sungai Bogowonto., sesuatu yang menjadi pantangannya.  Kemudian diputuskan untuk mrengambil jalan memutar menyeberang Sungai Bogowonto di hilir.      Pada tanggal 21 Pebruari 1830 Diponegoro tiba di Menoreh dengan pengawalan 700 prajurit. Kedatangannya disambut rakyat dengan penghormatan yang luar biasa. Rakyat secara sukarela menyediakan berbagai makan untuk prajurit Diponegoro ( periksa :Saleh A Djambhari : 2004 hall 220 ).
Ruas Jalan Utama Desa Menoreh, merupakan jalan raya kuno yang menghubungkan Kota Magelang dengan daerah Purworejo melewati Kacangan Banyuasin lereng Pegunung Menoreh . Tampak latar berlakang adalah jajaran Pegunungan Menoreh. 

            Pembelotan dan jumlah tawanan dari pihak pemberontak semakin meningkat. Pada bulan April 1929 Kiai Mojo di tangkap dan diasingkan ke Menado. Penangkapan Kiai Mojo kemudian diikuti dengan menyerahnya Pangeran Mangkubumi dan Sentot Alibasyah Pawirodirdjo. Kondisi ini membuat psikologis  Diponegoro semakin menurun, dan akhirnya bersedia melakukan perundiangan di Magelang pada tanggal 28 Maret 1825 Diponegoro , dua  orang puteranyayang masih kecil , Basah martonegoro, Kiai Haji Ngisa, Kiai Haji Badarudin dan dua orang abdi setianya Rata dan Bantengwareng.
SD Negeri Beteng  Desa Menoreh, berada di bekas Beteng Belanda dalam politik kolonial Beteng Stelsel. 

            Pertemuan di Karesidenan Kedu Magelang ini, bagi Diponegoro dianggap sebagai perte muan silaturahmi yang berkaitan dengan Idul Fitri sesuai adat istiadat jawa. Namun oleh Jenderal de Kock digunakan untuk menangkap dan melucuti Pangeran Diponegoro. Siasat dan tipu muslihat yang mengalahkan perang besar itu. Kemarahan atas tipu mulihat itu, terlihat dari guratan kuku Diponegoro di kursi tempat duduknya yang masih tersimpan di Gedung Karesidenan Kedu.

            Menoreh daerah yang berada di sisi selatan Kabupaten Magelang telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi perlawanan Diponegoro terhadap colonial Belanda. Sikap rakyat Menoreh sama seperti sikap rakyat Kabupaten Magelang yang mendukung dan melindungi pasukan Diponegoro. Ini berbeda dengan sikap yang ditunjukan oleh RAA Danoeningrat yang berpihak kepada Belanda. Danoeningrat sendiri tewas di pertempuran Kalijengking Salam Muntilan Magelang. Sikap kebanyakan rakyat Menoreh itu, tidak sebagaimana sikap Kiai Gadjah Lamong, Kiai Brengkel dan Kiai Salam mereka bekerja di bawah Bupati Danoeningrat yang berpihak kepada Belanda.  
R. Alwi alias Angabehi Danoekromo atau RAA Danoeningrat I Bupati pertama Magelang(Sumber Foto  Komunitas Kota Toea Magelang)

Ketiga kiai tersebut yaitu Kiai Gajah Lamong, Kiai Brengkel /Kiai Peti dan Kiai Abdul Salam    justru yang menewaskan para manggala manggala Pangeran Diponegoro seperti Demang Paningrom, Patiwangi, Eyang Guru Jati,Pangeran Suryogathi, Demang Rogowijoyo. Kelima manggala itu dimakamkan di  Alas Ketonggo Sambiroto Purwomartani Kalasan Sleman. ( Suryadi Suryaningrat  dlm Bokor Kencana Harian Bernas  hal 12 Tgl 2 Januari 1996 ) Sedangkan makam ketiga kiai tersebut berada di Dusun Brengkel Desa Salaman . Letaknya tidak dalam satu pemakaman. Makam Kiai Gajah Lamong sejak tahun 1990 sudah tidak bisa diakses umum karena berada di tengah SMK Muhammadiyah Salaman. Kiai Brengkel sering disebut dengan nama Kiai Peti berada di Pemakaman Brengkel II, banyak dikunjungi peziarah untuk berbagai motivasi. Sedangkan Kiai Salam berada di Dusun Brengkel I , tidak jauh dari Bekas Pendopo Kawedanan dan SMA Negeri Salaman.